(dimuat pada Kompas, 8 Desember 2009 Sesi Jawa Barat, halaman C)
//Check team!! Are your face in there friend??//
*Baru dapet dari halamannya GB-ITB,,thx ya tmen2 ITB…
|
Jalur Sepeda Bandung
Jumat, 20 November 2009 | 14:16 WIB
Fahmi Kemal (21) mengayuh sepedanya di Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung. Saat tiba di perempatan Jalan Ir H Djuanda-Jalan Cikapayang, mahasiswa Institut Teknologi Telkom itu terus melaju karena lampu hijau menjala.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah Jalan Cikapayang dan “brak!”. Fahmi jatuh dan sepedanya penyok. “Sepeda motornya (penabrak) kabur,” kata Fahmi, Kamis (19/11).
Setidaknya sudah tiga kali Fahmi mengalami hal serupa: ditabrak pengendara kendaraan bermotor saat dia sedang bersepeda. Bagi Fahmi, ini merupakan bukti nyata bahwa bersepeda di Kota Bandung tidak aman. Keberadaan para pesepeda belum diakui oleh pengendara kendaraan bermotor. “Pesepeda selalu dipaksa mengalah,” ujar Ketua Bike to Campus IT Telkom itu.
Meskipun jumlah pesepada di Kota Bandung makin banyak, itu tidak dibarengi dengan pengadaan fasilitas yang memadai. Saat ini terdapat 57 klub pesepeda di Kota Bandung dan sekitarnya dengan lebih kurang 7.000 anggota.
Selama ini para pesepeda harus bersaing dengan kendaraan bermotor di tengah ancaman kemacetan lalu lintas kota. Pengalaman pahit kerap harus ditelan pesepeda. “Kami sering diklakson, disalip, bahkan ditabrak,” kata pesepeda Ade Dewanto Hakim (40).
Untuk itu, para pesepeda meminta Pemerintah Kota Bandung mengakomodasi aspirasi mereka. Minimal Pemkot Bandung menyediakan jalur sepeda (bike line).
Wakil Ketua Telkom Cycling Community Susilo Budi Utomo (45) menilai jalur sepeda merupakan keharusan di tengah semakin meningkatnya jumlah pesepeda di Kota Bandung. Ini bukan sekadar untuk menunjukkan eksistensi pesepeda, melainkan lebih pada pemenuhan hak warga memperoleh rasa aman dan nyaman.
Pada tahun 2005 para pesepeda mengusulkan kepada Wali Kota Bandung Dada Rosada agar membangun jalur sepeda. Tahun 2007 permohonan serupa disampaikan lagi. Mereka hanya minta jalur selebar 1,5 meter di sisi kiri jalan sebagai jalur sepeda. Saat itu Dada Rosada berjanji akan memenuhi kebutuhan para pesepeda.
Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda memperkuat janji itu dengan mengatakan, tahun 2009 Pemkot Bandung akan membangun jalur sepeda. “Tapi, nyatanya sampai sekarang kami masih menunggu pemenuhan janji itu,” ujar Ade.
Sulit direalisasi
Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung Rusjaf Adimenggala mengatakan, pembangunan jalur khusus sepeda tidak bisa dilakukan karena keterbatasan lahan jalan. “Jalur sepeda yang sangat khusus tidak akan ada karena untuk menampung kendaraan bermotor yang jumlahnya ratusan ribu itu sudah susah,” ujarnya.
Menurut data Kompas, jumlah kendaraan di Kota Bandung 700.000 unit. Adapun panjang jalan hanya 1.230,4 kilometer atau hanya 5 persen dari luas Kota Bandung yang mencapai 16.729 hektar. Idealnya jaringan jalan minimal 30 persen dari luas kota.
Jaringan jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan tersebut, kata Rusjaf, mengakibatkan Bandung kerap macet. Jika sebagian lahan jalan digunakan sebagai jalur sepeda, kemacetan akan makin parah.
Pemkot Bandung menyiasati keterbatasan lahan jalan itu dengan menggandakan fungsi trotoar sebagai jalur pejalan kaki dan jalur sepeda. Untuk tahap awal Pemkot Bandung memfungsikan trotoar sepanjang 90 meter di Jalan Ir H Djuanda. Ini akan dilanjutkan pada 2010.
Lagi-lagi Rusjaf mengaku, tidak mudah menggandakan fungsi trotoar. Kendalanya, antara lain, banyaknya tiang listrik, tiang telepon, dan pohon di sepanjang trotoar yang mengganggu pesepeda. Ternyata janji memang gampang diucapkan. (Mohammad Hilmi Faiq)
Answer: Btw semenjak tahun 2010 dah terealisasi niy.. tapi coba awasi pengadaannya ya.. rawan korupsi cuy..!
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/20/14161262/jalur.sepeda.di.bandung
|

Kalau naik angkot di akhir pekan bisa 3 jam. Yang ada malah frustasi duluan sebelum kuliah, tutur mahasiswa IT Telkom ini. Meskipun sudah dua kali kehilangan sepeda, ia mengaku tidak kapok. Karena, manfaatnya dinilai lebih besar daripada resiko hilang sepeda.
Menurut dia, selain parkiran khusus sepeda, kampus membutuhkan kamar mandi yang nyaman untuk bisa lebih banyak merangsang civitas akademika gowes ke kampus. “Kalau perlu, jika terburu-buru, mandinya pas nyampe di kampus aja. Jadi, di kos gak usah. Hehe,” tutur Arief Nugroho (23), pesepeda dari Ganesha Bicycler ITB.
Berbicara soal kehilangan sepeda, ada hal yang menarik dikaitkan dengan komunitas pesepeda di kampus ini. Seperti dituturkan Yudha Hamdiarzi (19), Ketua Ganesha Bicycler, berkat solidaritas jaringan pesepeda, jika ada kasus sepeda hilang di kampus, itu bisa dilacak.
“Masuk ke situs komunitas sepedaku.com lalu sebutkan ciri-ciri sepeda, kawan-kawan dengan senang hati membantu memberi tahu kita jika melihat sepeda itu. Seperti sewaktu sepeda teman kami hilang, yang memberi tahu malah orang di bengkel,” tutur Paulus (19), mahasiswa ITB lainnya.
“Yang menyenangkan dari bersepeda di kampus, pegowes diperlakukan seperti raja di kampus ITB. Kenapa? Soalnya, kalau motor dan mobil selain milik dosen dilarang masuk ke areal kampus. Kalau sepeda kan boleh. Makanya, teman yang tinggal di apartemen sampai mengganti mobil dengan sepeda,” tutur Yudha.
Seperti layaknya anak muda lainnya, anak-anak GB ITB juga doyan nongkrong di malam minggu. Tetapi, ke mana pun itu mainnya, entah biliar atau mall, yang penting naiknya sepeda, tutur Paul. Gak gengsi ? “Malah keren dong,” ucap dia menimpali.
|
Another Post on News Site..
Senin, 03/01/2011 08:49 WIB
Gowes Fixie ke Kampus, Siapa Takut!
Vita Principalia – detikBandung

Bandung – Anda pasti sudah akrab dengan komunitas Bike to Campus atau bersepeda ke kampus. Beberapa waktu terakhir, komunitas ini kedatangan anggota baru yaitu jenis sepeda fixed gear yang dikenal dengan Fixie.
Sepeda yang identik dengan warna–warna cerah itu pun bergabung dengan komunitas Bike to Campus Institut Teknologi Telkom. Kemal, alumni IT Telkom jurusan Elektro adalah yang pertama kali gowes dengan sepeda Fixie di kawasan kampus yang berlokasi di Dayeuh Kolot itu. Ia ‘meracuni virus gowes dengan memperlihatkan video rekaman sepeda tanpa rem itu kepada teman–temannya.
Perlahan peminat sepeda fixie di IT Telkom bertambah. Hingga saat ini sudah lebih dari 20 sepeda yang bergabung dengan komunitas ini.
“Komunitas ini memang ngga ada nama khususnya, karena dasarnya semua jenis sepeda boleh ikutan dan berharap sepeda bisa jadi transportasi utama,” Jelas Mbenk Divisi Humas kepada detikbandung, Rabu (29/12/2010).
Kumpulan sepeda fixie itu setiap hari minggu rutin mengayuh sepedanya ke kawasan Dago untuk berpartisipasi dalam Car Free Day. Sore hari sepulang kuliah pun seringkali dimanfaatkan untuk berkumpul sekedar sharing aksesoris Fixie, saling belajar trik-trik khusus dan bersepeda ke kampus terdekat (IM Telkom dan Poltek Telkom) untuk menularkan semangat bersepeda sesama mahasiswa.
Tidak hanya terdiri dari lelaki saja, mereka juga kehadiran tiga cewek yang bergabung dalam komunitas Fixie itu. Karena pada dasarnya komunitas ini sangat terbuka dengan siapa saja yang ingin bergabung. Bahkan, jenis sepeda lainnya juga seringkali gowes bareng antara lain sepeda lipat, BMX, Mountain bike (sepeda gunung), sepeda onthel, low rider dan street biker.
“Gowes fixie itu fun banget, ngehilangin stress karena warna sepedanya warna-warni,” tambahnya.
(ern/ern)
sumber: http://bandung.detik.com/read/2011/01/03/084910/1537766/681/gowes-fixie-ke-kampus-siapa-takut
|
Hanya berselang beberapa jam saja lantas muncul berita baru.. Mbenk edan emang..
)
Senin, 03/01/2011 11:41 WIB
Intip Persiapan Berfixie Yuk!
Vita Principalia – detikBandung

Bandung – Komunitas Bike to Campus IT Telkom (BTC IT Telkom) seringkali berbagi tips and trik seputar Fixie. Tidak hanya mengenai teknik bersepeda, tapi juga perawatan sepeda unik tersebut. Sebelum ber-Fixie ria, yuk kita lirik dulu persiapannya!
Sepeda fixie identik dengan sepeda tanpa rem serta tanpa gear atau gigi dinamis belakang. Disarankan bagi pemula yang ingin gowes fixie menggunakan rem, karena berbahaya jika tidak menguasai teknik menghentikan laju sepedanya.
Teknik Skid (menahan pedal supaya diam) memang susah-susah gampang, mirip dengan rem pada umumnya, hanya saja menggunakan kaki untuk memperlambat laju sepeda. Ya, memang butuh latihan supaya mahir mengayuh sepeda ini.
“Minimal pakai rem depan karena sangat bahaya, perhatikan juga system gerak gear dan rantai untuk safety riding,” jelas Mbenk, Humas BTC IT Telkom kepada
detikbandung, Rabu (29/12/2010).
Selain teknik bersepeda, ini dia beberapa hal yang harus diperhatikan untuk pemula fixie. Anda harus menentukan budget, karena pada dasarnya komponen sepeda fixie sederhana. Semua jenis sepeda bisa dijadikan sepeda fixie dengan mengubah system gear dan rantai. Anda bisa menyiasatinya dengan membeli brand local atau bisa juga dengan parts bekas berkualitas baik.
Selanjutnya adalah menyesuaikan sepeda dengan postur tubuh. Anda pun harus menentukan ukuran gear depan dan belakang untuk menyesuaikan kekuatan mengayuh sepeda. Semakin besar rasio antara gear depan dan belakang, maka butuh tenaga yang besar namun laju akan semakin cepat pula. Rasio diperoleh dari perbandingan ukuran gear depan dan belakang.
Bergabung dengan komunitas sepeda fixie juga memudahkan anda untuk mengetahui lebih jauh. Anda pun bisa mendapatkan referensi teknik dan aksesoris melalui video-video di youtube dan forum komunitas di internet. So,selamat ber-fixie ya!
(ern/ern)
Sumber: http://bandung.detik.com/read/2011/01/03/114143/1537905/681/intip-persiapan-berfixie-yuk

mantab gan ada foto gw ..hahaha